Mangrove Tongke-tongke, Ikon Pariwisata Kota Sinjai

Mangrove Tongke-tongke, Ikon Pariwisata Kota Sinjai

Tongke-tongke destinasi wisata kota Sinjai demikian slogan yang sekarang lekat dengan obyek wisata ini. Team yang menamakan “Team Tongke-tongke P3E Suma” melakukan peliputan ke Kabupaten Sinjai, pada Selasa, (17/04/2018).

Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sinjai menjadi kunjungan pertama sekaligu melakukan koordiansi, disambut Kepala Bidang Pengendalian Perencanaan dan Kerusaakan LH. Evikasinoor. Beliau menyampaikan bahwa, “pada tahun 2017 tempat ini telah ditetapkan sebagai laboratorium mangrove Sulawesi Selatan, sekaligus icon wisata andalan Sinjai.”

Atas saran Kabid. Pengendalian Perencanaan dan Kerusaakan LH, untuk mempermudah akses ke lokasi Mangrove Tongke-tongke, terlebih dahulu untuk berkunjung ke Dinas Pariwisata Kabupaten Sinjai, “Sebetulnya kawasan wisata hutan bakau mangrove di Sinjai ini hanya salah satu destinasi wisata yang ada di Sinjai. Ada beberapa obyek wisata yang merupakan andalan, diantaranya Kerampuan (rumah adat Sinjai), Marimpasalo (menangkap ikan), Festival Kultur Budaya yang diadakan tiap tahun dan yang paling hits saat ini adalah Tahura (Taman Hutan Rakyat) di daerah Borong.” Ungkapnya

Didampingi Evikasinoor “Team Tongke P3E Suma”  diantar ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sinjai, untuk bertemu dengan Kepala Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata, Mandasini.

Lebih jauh disampaikan, “Lokasi objek wisata Tongke-tongke sangat dekat dengan berbagai objek wisata lainnya di Kecamatan Sinjai Utara dan Sinjai Timur. Tahura juga merupakan fokus saat ini untuk pengembangan destinasi wisata di Sinjai selain Wisata Hutan Bakau Mangrove Tongke-tongke ini.”

Hutan Mangrove Tongke-Tongke Sinjai Dipadati Wisatawan Sehari Pascalebaran

Hutan Mangrove Tongke-Tongke Sinjai Dipadati Wisatawan Sehari Pascalebaran

Wisata ke pesisir pantai sambil menikmati sejuknya hutan mangrove, belakangan lagi hits banget di kalangan wisatawan lho guys. Karena biasanya di hutan mangrove, selain cuma menikmati suasana alam yang alami, kita juga bisa ikut konservasi lingkungan dengan menanam bibit mangrove.

Nah, di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, ada lokasi wisata hutan mangrove yang lagi ramai sekali dikunjungi warga pada akhir pekan, yaitu, Hutan Mangrove Tongke-tongke.

Hutan Mangrove Tongke – tongke berjarak sekitar 8 km dari pusat kota Sinjai, dengan waktu tempuh sekitar 18 menit saja dengan kendaraan bermotor. Menuju ke lokasi ini nggak perlu takut jalan rusak guys, karena jalanannya mulus sampai ke pesisir, asyiknya lagi kita juga melewati perkampungan nelayan dengan jejeran berbagai jenis perahu bersandar di pelabuhan. Nah, disini kamu bisa jeprat-jepret mengabadikan suasana kampung nelayan yang masih tradisional .

Untuk menikmati keindahan hutan mangrove Tongke – tongke, kamu cukup menbayar parkir saja, lalu dari area parkir kamu harus berjalan menyusuri jembatan kayu ulin yang membentuk lorong-lorong dan saling terhubung satu sama lain.

Kawasan hutan mangrove Tongke – tongke ini memiliki luas sekitar 173,5 hektar dan dijadikan sebagai pusat restorasi dan pembelajaran mangrove. Kamu bisa melihat langsung bagaimana tanaman mangrove ini dilindungi dan dilestarikan demi menjaga ekosistem pesisir laut.

Kalau sudah mulai lapar, jangan khawatir guys, karena disini tersedia kafe – kafe terapung yang menyediakan berbagai makanan dan minuman. Kamu bisa menikmati hidangan sambil menyaksikan panorama air laut yang membiru dihiasi dengan gugusan pulau 9 yang terpampang jelas di depan mata.

Kalau kamu belum puas juga sekedar jalan – jalan melihat pemandangan atau makan, kamu juga bisa menyewa jasa speed boat untuk menyusuri “terowongan” bakau sambil menambah pengetahuan tentang mangrove. Seru kan!

Sudah Tahu? Sinjai Punya Hutan Mangrove Kekinian

Sudah Tahu? Sinjai Punya Hutan Mangrove Kekinian

Kalau liburan di Kabupaten Sinjai, sempatkan mampir ke hutan mangrovenya. Pemandangannya cantik dan suasananya asyik buat kabur sejenak dari keramaian kota.

Banyak pilihan untuk menikmati libur akhir pekan. Salah satunya dengan berkunjung ke sejumlah tempat wisata alam. Seperti yang ada di di Desa Tongke-tongke, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan.

Ada Taman Wisata Mangrove Tongke-tongke yang dapat traveler kunjungi. Meski masih sepi pengunjung, hutan mangrove ini menjadi favorit masyarakat Sulawesi Selatan yang suka dengan pemandangan mangrove. Kenapa tidak, taman mangrove ini dipadukan lautan luas, jadi sangat cocok bagi muda-mudi yang yang hobi berfoto dan berselfie ria.

Tak hanya itu, untuk menambah keindahan mangrove dan memudahkan akses pengunjung berkeliling, dibangun sebuah jembatan mengelilingi mangrove di atas lautan. Jadi cocok bagi pengunjung yang ingin berjalan dan melihat keindahan mangrove, serta lautan lepas di Kabupaten Sinjai.

Jika ingin ke tempat ini, traveler harus menempuh perjalanan 30 menit dari Sinjai Kota, sementara dari Makassar, perjalanan ditempuh 4 hingga 5 jam lamanya naik mobil.

“Saya suka ke sini karena bagus juga, bisa foto-foto sama teman, apalagi masih terjaga betul ada mangrove dan laut lepas,” kata seorang pengunjung bernama Ifa kepada detikTravel, Minggu (24/6/2018).

Biaya masuk wisata kemari Rp 5.000 untuk satu orang pengunjung. Jadi tergolong murah bagi yang ingin berwisata irit pasca libur Lebaran. Apakah traveler tertarik mengunjunginya? Yuk datang langsung ke Kabupaten Sinjai.

Petunjuk Teknis Program Padat Karya Tunai Di Desa Tahun 2018

Petunjuk Teknis Program Padat Karya Tunai Di Desa Tahun 2018

Regulasi Desa – Program padat karya adalah kegiatan pemberdayaan keluarga miskin, pengangguran dankeluaga dengan balita gizi buruk yang bersifat produktif berdasrkan pemanfaata sumber daya alam, tenaga kerja dan teknologi lokal dalam rangka mengurangi kemiskinan, meningkatan pendapatan dan menurunkan angka stunting. Tapi seperti apa sih kerangka pikir program ini?

Berikut ini penjelasan kerangka pikir Program Padat Karya yang sekarang ini sudah berjalan di berbagai wilayah di Indonesia:

Padat karya dilakukan untuk mengurangi kemiskinan, pengangguran dan gzi buruk. Maka padar karya ditujukan pada keluarga miskin, penganggur, setengah penganggur, anggota keluarga dengan gizi balita buruk dan merupakan kesempatan kerja sementara.

Padat karya juga dimaksudkan sebagai kegiatan yang harus berdampak pada peningkatan pendapatan tanpa sepenuhnya menggantikan pekerjaan yang lama. Mekanisme dalam penentuan upah dibangun dengan cara partisipatif dalam musyawarah desa.

Kegiatanya disusun sendiri oleh desa sesuai kebutuhan lokal. Padat karya difokuskan pada pembangunan sarana prasaraaa perdesaan atau pendayagunaan sumber daya alam secara lestari berbasis pemberdayaan masyarakat.

Permendagri No. 114 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pembangunan Desa

Permendagri No. 114 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pembangunan Desa

Permendagri – Permendagri Nomor 114 tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa adalah salah satu Peraturan Menteri Dalam Negeri yang keluar berbarengan dalam segepok peraturan menteri dalam negeri yang kejar tayang dan dilemparkan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pada 31 Desember 2014.

Adapun apa yang ada dalam Permendagri 114 ini akan membuat puyeng dengan Permendagri Nomor 113 tentang Pengelolaan Keuangan Desa. Mengapa karena nomenklatur untuk pembangunan desa sendiri dengan pengelolaan keuangan desa sepertinya tidak kompak dan akan membingungkan ketika nanti dilakukan implementasi, dan tidak ada lagi kebebasan sejauhmana RPJMDes yang dibuat didesa dapat dilaksanakan berdasarkan kebutuhan.

Permendagri 114 juga mengatur tentang bagaimana cara Pembentukan Tim Penyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa atau RPJMDes atau RPJM Desa. Tentang Penyelarasan arah kebijakan pembangunan kabupaten/kota ada di dalam Permendagri 114, pasal 10 dan 11.